Senin, 16 Juli 2012

SEJARAH SENI BENJANG DARI KAMPUNG CIWARU


SEJARAH SENI BENJANG DARI KAMPUNG CIWARU
Kel Benjang “Panca Warna” pimpinan Al Wasim
Terekdengklok-Ciwaru (1920-1947)

Kel Benjang “Panca Warna “ pimpinan Salhasik
Ciwaru(1947-1959)

Kel Benjang “Panca Warna” pimpinanan Barna dan Basar
Ciwaru (1959-1976)

Kel Benjang “Panca Warna” pimpinana Idi
Ciwaru(1976-1979)

Kel Benjang Panca Warna pimpinana Asdia
Ciwaru (1979-1983)

Kel Benjang “Pusaka Al Wasim Muda” bimbingan Basar
Ciwaru (2004-20..)

Ada masa kefakuman antara tahun 1983-2004, sehingga melahirkan kelompok benjang kombinasi “Mekar Harapan” asuhan Bah Emed.

·      Bah Emed
Bah emed menuturkan bahwa bentuk seni benjang gulat yang dikenal masyarakat saat ini, baru ada sekitar tahun 1926. Sebelumnya bentuk seni benjang khususnya di kampung Ciwaru berupa seredan, dogongan, atau panceran/panciran.

·      Bah Didi
Pada tahun 1972  kelompok seni “Kandaga Kencana”, yang dipimpin oleh Yoyoy Yohana, mempunyai tujuan melestarikan topeng benjang. Untuk itu mereka mencari pemain waditra kendangan, juga pewaris serta penerus benjang Al Wasim, yang dianggap sebagai pelopor seni tersebut. Pilihan pun jatuh pada Bah Didi. Lewat kegiatan kelompok seni “Kendaga Kencana” ini Bah Didi bisa memperkenalkan seni tari topeng benjang ke tingkat nasional. Namun sayang kegiatan ini akhirnya terhenti menjelang tahun 1980-an seiring dengan makin tidak aktifnya kelompok tersebut.

·      Aki Oyod
Aki Oyod berusaha mendiirikan kembali kelompok Benjang “Pusaka Gelar Putra” sebagai penerus kejayaan kelompok Irtasan.
Dia mengaku walau kelompok Irtasan lebih dahuluu eksis dibandingkan kelompok Al Wasim, namun dalam kreatifitas dan pengembangan, mereka kalah bersaing dengan kelompok Ciwaru tersebut.
Kreatifitas kelompok Al Wasim saat itu menjadi fenomena yang sangat menakjubkan bagi pecinta dan para tokoh benjang di Sekemandung khususnya. Baik dilihat dari sisi kelengkapan property, pola tabuh, atau saat para pemain dalam keadaan trance atau dijadikeun, serta pertunjukan topeng benjang.
Meski kalah bersaing, kelompok Irtasan berusaha tetap eksis hingga awal jaman Orde baru. Memasuki awal orde baru pengembangan benjang di Sekemandung di ambil alih oleh kelompok Saptari, semua waditra serta property benjang milik kelompok ini diwariskan kepada kelompok Saptaru. Namun sepeninggal Aki Saptari barang-barang tersebut dikembalikan lagi kepada Aki Oyod sebagai pewaris kelompok Irtasan.


·      Bah Tarpi
Selain acara hajatan, menurut Bah Tarpi pergelaran benjang gulat juga diadakan secara besar-besaran setiap taun sekali pada peringatan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina dari kerajaan Belanda. Perayaan sering diadakan di sekitar pabrik aci milki mas Hasandikarta di desa Warung Gede-Cileunyi. Pada peristiwa itu jago-jago benjang dari berbagai daerah berdatangan untuk menjajal kemampuannya masing-masing termasuk di antaranya Bah Tarpi sendiri.

·      Bah tirta
Mad Sari adalah tokoh seni terebangan yang sangat berjasa dalam melahirkan seni benjang di awal perkembangan seni tersebut. Ia menjadi guru seni terebangan kelompok mas Hasandikarta. Bersama Santari atau Antari, dia membuimbing para tokoh seni benjang dari Ciwaru dan sekitarnya, seperti Al Wasim dan Ama Karma..
Menurut Abah Tirta rumpaka (syair lagu) daam seni terebangan dapat dibagi mnejadi tiga kelompok yaitu lagu lalugu, lagu tambahan, dan lagu hiburan. Bahan kayu pembuat waditra terebangan berkualitas terbaik harus terbuat dari kayu kiara atau kanyere. Kulit yang digunakan untuk pembuatan terebangan yang terbaik harus terbuat dari kulit mencek (rusa).Sedangkan untuk waditra kendang, harus terbuat dari kulit eneng (anak kerbau). Konon dahulu pernah ada waditra terebang yang terbuat dari kulit meong (macan). Kulit meong dipercaya berhawa panas , sehingga saat waditra trsebut digunakan berakhir dengan keributan.

·      Bah Atmadi
Bah Atmadi yang merupakan salah seorang panayaga kelompok Ama Karma, sehingga dari beliau dapat digali  informasi mengenai kelompok Ama Karma.
Ama Karma awalnya bukan seorang pelaku benjang. Dia adalah pembuat waditra serta property benjang. Namun atas saran Al Wasim serta bimbingan Mad Sari akhirnya Ama Karma dibantu para puteranya Endang dan Endin menjelang tahun 1950-an membentuk kelompok sendiri di kampung Cipanjalu.
Pada tahun 1934, keluarga Ukria mengadakan khitanan puteranya. Untuk meramaikan acara khitanan puteranya tersebut, keluarga Ukria mengundang kelompok benjang Al Wasim. Seusai pertunjukan tersebut ia mengutarakan keinginannya untuk mempelajari seni tersebut dan bergabung ke dalam paguyuban “Panca Warna”. Al Wasim menerima permintaan tersebut, karena ia pun tahu kalau Bah Ukria pada saat itu adalah salah satu tokoh seni pencak silat yang sangat disegani di Ujung Berung.  Namun khusus untuk keinginannya memperdalam kesenian benjang, Bah Wasim menganjurkan agar keluarga Ukria bergabung dengan Ama Karma untuk mebuat kelompok baru. Akhirnya keluarga Ukria bergabung dengan kelompok Ama Karma.

D. Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)
            Pada masa ini, banyak seniman benjang yang menghentikan kegiatannya akibat kebijakan pemerintah Jepang yang membatasi setiap kegiatan pengerahan masa. Namun secara umum pertunjukkan Benjang masih bisa digelar walau dengan pengawasan yang ketat, khususnya Benjang Gulat sendiri hanya bisa dilksanakan pada siang hari.

E. Masa Awal Kemerdekaan (1946-1949)
            Memasuki awal kemerdekaan suhu politik tidak menentu. Sebagian besar penduduk ujungberung mengungsi ke berbagai daerah di Jawa Barat, atau pindah mendekati pusat Kecamatan Ujungberung dengan alasan keamanan (dampak ini di kemudian hari melahirkan grup-grup Benjang Helaran baru yang berdomisili tidak jauh dari pusat kota kecamatan tersebut). Sebagian para seniman dan jawara Benjang mendaftarkan diri sebagai TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Walau begitu pada tahun 1948, tercatat ada satu pergelaran seni Benjang akbar yang diadakan bersama ‘pasar malam’ untuk merayakan kenaikan tahta Ratu Yuliana dari negeri Belanda di Alun-Alun Ujungberung dan sekitarnya.

F. Masa Orde Lama (1950-1965)
            Selepas Agresi Belanda, penduduk Ujungberung pulang dari pengungsian, mengakibatkan maraknya kembali kegiatan seni Benjang. Khususnya kegiatan Benjang Helaran makin menyebar ke seluruh pelosok Ujungberung. Tampilan arak-arakan menjadi lebih ekpresif dan dinamis.
            Pada tanggal 15 Maret 1956, Somawidjaja Engkon Sadikin merestorasi kembali paguyuban Benjang ‘Soerja Kontjara’ dengan nama baru Persatuan Benjang Pencak Silat (PBPI) ‘Soerja’. Hal ini dilakukan untuk menghimpun kembali para tokoh dan seniman Benjang yang sempat tercerai-berai.
            Menjelang akhir tahun 1950-an terjadi pewarisan pimpinan kelompok benjang Ciwaru dan Cigupakan. Kelompok Al Wasim mewariskan pengelolaan kelompok mereka pada anak asuh Al Wasim, yaitu Salhasik (Bah Asik). Sedangkan kelompok Cigupakan menyerahkannya pada menantu Asnarif yaitu Sumarta (Bah Ata).
            Ditangan Salhasik kelompok ini kurang berkembang sehingga pada tahun 1959, Ama Karma dan Ukria  memisahkan diri dari kelompok Al Wasim, dan membentuk kelompok sendiri yang bermarkas di Desa Cipanjalu. Karena letaknya lebih dekat ke Ibukota kecamatan, maka kelompok baru ini maju dengan pesat. Akhirnya pengendalian pengembangan seni Benjang khususnya Benjang Helaran kini bergeser ke kelompok Ama Karma-Ukria dan Sumarta. Praktis kegiatan seni Benjang Helaran memasuki awal tahun 60-an tidak lagi dipegang sepenuhnya oleh kelompok Ciwaru.
            Dalam pengembangannya kelompok Ama-Ukria dibantu oleh tenaga-tenaga muda sepertiEndang dan Endin (putera Ama), serta IdingSarkusEutikNahdi (putera Ukria).
            Selain kelompok Ama dan Sumarta, muncul kelompok lain seperti kelompok Ruba’i dan Suwita dari Kampung Palintang yang tidak terkait secara langsung dengan kelompok Ciwaru, Cigupakan, atau Sekemandung. Kelompok ini didirikan merupakan hasil musyawarah seluruh warga kampung Waditra dan proferti seni merupakan hasil swadaya masyarakat. Pembentukannya didasarkan kepada alasan ekonomis , karena pada waktu itu Kampung Palintang yang letaknya (± 8 km Alun-Alun Ujungberung) sangat terpencil dari perkampungan lainnya.
            Masih di luar kelompok Ciwaru dan Cigupakan, lahir pula kelompok-kelompok lain seperti grup Benjang Helaran pimpinan Junasik dari Kampung Gadog, Sahuri dari kampung Ciharegem penerus kejayaan Kelompok Mad Ro’i. Darya (Balong Saladah), Saptari (Sekemandung) dsb.
            Pada tahun 1959, atas desakan para sesepuh desa, maka kelompok Ciwaru kembali mendirikan grup seni benjang Helaran baru di bawah pimpinan kakak beradik Barna dan Basar.
            Tahun 1961 kelompok Ama-Ukria mulai memasukkan bentuk ‘liong’ ke dalam tampilan grup Benjang Helaran, sehingga bentuk helaran ini bertambah semarak.
            Memasuki tahun 1963, kelompok Ukria memisahkan diri membentuk kelompok baru bernama “Panca Warna” dan pemberian nama itu ditujukan untuk mengingatkan kembali pada para pendahulu mereka dari Ciwaru. Kelompok ini bertempat di Kampung Karang Anyar (± 300 m) dari Alun-Alun Ujungberung. Grup Benjang Helaran ini berturut-turut dipimpin oleh para putera Ukria. Yang pertama dipimpin oleh Iding (Putera Ukria tertua), SarkusEutikNahdi dan sejak tahun 2004 dikelola olehYuyun (menantu Nahdi). 
            Sepanjang tahun 1950 hingga tahun 1960-an, seni Topeng Benjang mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan ditandai munculnya para penari lapisan lain. Seni Topeng Benjang pun berkembang ke bentuk seni teater tradisional.
            Menjelang tahun 1965, mulai ada upaya beberapa seniman Benjang untuk kembali lebih mengutamakan gerak Tari Topeng Klasik yang berpola. Usaha ini dipelopori oleh Ono (Kelompok Ama Karma) dan Otoy (Kelompok Darya).
            Dengan begitu muncul dua kelompok penari; pertama, penari “Topeng Buhun” (buhun=kuno, tua), penari topeng yang tetap pada cara lama, dengan tarian Topeng Benjang yang tidak berpola.Kedua, penari “Topeng Baru” yang menari dengan dasar Topeng Klasik murni yang berpola. Para tokoh Topeng Buhun diantaranya: SadikSanangKahyat (kelompok Sumarta-Cigupakan), Dana,Iling (Kelompok Barna-Ciwaru), Asji dan Adang (Ciporeat), Kosasih dan Oyod (Sekemandung). Kelompok Topeng Baru diantaranya: Ono (Kelompok Ama Karma), Otoy dan Enih Sutija(Kelompok Darya).
            Di Benjang Gulat pada periode ini hingga awal tahun 1960, peta kekuatan semakin menyebar mendekati ibukota kecamatan. Muncul jawara-jawara baru, diantaranya: Opo (Pasir Angin), Suhadialias Cep Mangkurat (Cigending), Sarkus (Babakan Teureup), Mansur (Babakan Sayang), Oleh dan Habib (Cibiru), Den Padma (Nagrog), Djumadi (Sekehonje), Otoy (Cileunyi), Ahmad(Cijambe), DjuwitaBardjo, dan Utja (Gede Bage), Mail dan Surja (Ciluncat), Lili (Andir), danEman Suhada alias “Maliu Muda” (Cigending).
Seni Berokan dari Indramayu ini memiliki properti ‘kuda lumping’ serta ‘barong’ yang mirip dengan ‘bangbarongan’ pada seni Benjang Helaran. Dimungkinkan seni Benjang Helaran agaknya terpengaruh penampilan seni tersebut.
Rupanya tidak hanya seni Berokan yang memiliki properti sama dengan Benjang. Di Kabupaten Jepara terdapat seni arak-arakan “Barongan” yang memiliki bentuk barong yang sama dengan bangbarongan pada seni Benjang Helaran.
Di daerah Cibiru, hingga Cileunyi terdapat Seni Reak. Seni ini memiliki waditra mirip Waditra Seni Benjang, dengan penambahan waditra ‘reog’ dan ‘angklung’ yang biasanya dimainkan pada pertunjukan Seni Buncis. Menurut beberapa tokoh seni setempat, bahwasanya Seni Reak merupakan perkembangan dari Seni Benjang.

Bapak Suhardjadiredja alias Sukria (1922 – 20..), cucu Natadiredja, tokoh Benjang Ciharegem, tinggal di Cigending. Sebelum masa Agresi Belanda II, ia tinggal di sekitar Kampung Ciharegem (Kampung Pasir Tengah – sekarang). Beliau banyak bertutur tentang sejarah perkembangan seni Benjang – Ciharegem.

Bapak Ono, ia menjadi penopeng sejak usia sekolah dasar, diawali sebagai penari topeng sandiwara keliling “Sri Murni”. Menjelang remaja, oleh ayahnya (Ama Karma) ia dilibatkan dalam kegiatan pentas Topeng Benjang. Kini ia bersama kedua saudaranya, Bapak Iding dan Bapak Onang, mengasuh Grup Benjang “Pusaka Wangi” di Kampung Ranca, Kecamatan Ujungberung.
Lain lagi pengalaman Bapak Yaya S. Atau lebih dikenal dengan sebutan Ua Akuy (penyiar radio “Barani”). Di akhir tahun 1960-an, saat masa kanak-kanak ia sangat tergila-gila pada seni Benjang Gulat, namun ayahnya sangat menentang keras hobi putranya itu. Pada suatu pagelaran, ia memperoleh kesempatan untuk maju ke arena dan tak sengaja mendapat lawan yang jauh lebih tua dan besar. Sudah tentu, ia menjadi bulan-bulanan musuhnya hingga babak belur. Sampai di rumah, ia pun dihukum oleh ayahnya, yaitu dikurung di dalam kamar selama dua hari. Namun, hal yang tak mengenakan itu tak membuatnya jera sama sekali.

Bah Sidik (1942 – 20..) tinggal di Kampung Pasir Angin. Beliau adalah generasi terakhir penopeng benjang Kelompok Sumarta dari Kampung Cigupakan. Sejak tahun 2003, ia kembali aktif mengembangkan seni Topeng Benjang bersama Grup Benjang “Mekar Budaya” pimpinan Bah Ucun dari Kampung Cipatat- Cikalmiring. Beliau tergolong salah seorang seniman Benjang yang cukup komplit. Selain menguasai Tari Topeng Benjang, ia pun bisa bermain Benjang Gulat, menabuh semua waditra, hingga memainkan properti Benjang.

Ukuran berat badan tidak menjamin seorang pebenjang akan memenangkan pertandingan dari lawannya yang lebih kecil badannya. Itu telah dibuktikan sejak dulu oleh para pebenjang tradisional. Sebut saja misalnya pebenjang tahun 1940-50-an, Eman Suhada. Ia memiliki tubuh tidak terlalu besar tetapi sering bisa mengalahkan lawannya yang badannya jauh lebih besar. Kepandaiannya memadukan teknik serta kekuatan otot menjadikan ia sangat disegani oleh lawan-lawannya, sehingga di kalangan pebenjang ia digelari “Maliu Muda”. Maliu sendiri adalah seorang juara wrestling yang telah beberapa kali memperoleh gelar Champion of Java.

G. Masa Orde Baru (1966-1998)
            Memasuki awal orde baru frekuennsi kegiatan seni benjang tampak menrun, hingga beberapa kelompok benjang menghentikan kegiatanya. Kepakuman tersebut menjadikan para pemain dari kelompok yang pakun tersebut memisahkan diri dan membentuk kelompok-kelompok baru. Kemudian mereka memberi nama baru untuk kelompok yang mereka dirikan.
            Pada pertengahan tahun 70-an ini, property jampana/tandu tidak digunakan lagi. Sebagai gantinya, anah khitan diarak dengan seekor kuda atau sebuah jampana berbentuk singa. Pada saat itu pada pertunjukan seni benjang Helaran disertakan pula salah satu jenis kesenian lainya, yaitu seni kuda renggong atau singa depok, yang khusus mengarak anah khitan.
            Pada awal tahun 1978, kelompok Darya melakukan inovasi dengan menghadirkan pemain “kepang wanita” dan membuat jampana bentuk baru yang disebut “kuda depok”. Jampana ini berbentuk boneka kuda dari kayu,merupakan adaptasi perpaduan dari bentuk seni kuda renggong dan singa depok. Usaha ini tidak berlangsung lama karena masyarakat seni ini belum bisa menerima inovasi seperti itu. Kelak usaha menghadirkan kelompok menari “kepang wanita” diteruskan leh kelompok benjang Helaran “mekar harapan”  pimpinan asep K. dari kampunng cigupakan.
            Di seni Benjanng Gulat, memasuki era tahun 1960-1970, kegiatanya semakin marak dengan munculjawara-jawara baru, di antaranya sang legendaries Nahdi dan Adang Hakim.
Semaraknya kegiatan benjang gulat dan helaran tidak diikuti oleh topeng benjang. Kegiatan ini cenderung menurun dan akhirnya terhenti dikarenaan alasana ekonomis. Alas an itupun menjadikan pergelaran seni benjang tidak lagi dihadirkan dalam satu paket.
Hingga pertengahan tahun 1970-an, kegiatan benjang gulat masih digelar. Kelompok Panca Warna dibantu olh keluarga Aspali berinisiatif menggelar benjang gulat di sekitar terminal dan alun-alun Ujung Berung.
Dari akhir tahun 1960 hingga 1975, lahirlah jawara-jawara baru. Kemudian akhirnya Abdul Gani mengikuti jejak pendahulunya, Adang Hakim untuk menekuni olah raga gulat. Pada tahun 1969 keduanya terdaftar menjadi atlet gulat andalan Jawa Barat. Puncaknya pada bulan agustus 1969, Abdul Gani berhasil meraih medali emas di kelas gaya Yunani Romawi 52 kg, pada PON VII di Surabaya.
Memasuki pertengahan tahun 1970, terjadi pergeseran nilai di tengah masyarakat seiring dengan makin berkembangnya daerah itu. Frekuensi pergelaran benjang mulaim menurun. Ditandai dengan keluarnya larangan untuk menggelar pertunjukan benjang gulat, karena sudah dinilai tidak lagi menjunjung nilai sportifitas, sehingga sering menimbulkan tawuran antar warga. Walau terkena larangan di wilayah Ujung Berung atas (tonggoh), pada periode ini seni Benjang Gulat masih tetap digelar walaupun frekuensinya sangat minim. Namun pada periode ini tetap lahir jawara-jawara Benjang yang beberapa di antaranya tercatat sebagai atlet gulat.
Kejadian ini juga mengimbas kegiatan Benjang Helaran, walau dari pertengahan 70-an hingga awal 80-an bermunculan kelompok baru, tetapi kelompok itu tidak bisa bertahan lama. Namun secara umum seni Benjang Helaran masih diminati oleh masyarakat, walau baik kualitas dan kuantitasny amenurun bila dibandingkan pada masa kejayaannya di awal tahun 1950 hingga tahun 1966.
Menurunnya frekuensi berkesenian baik kualitas ataupun kuantitas tidak hanya teralami oleh seni Benjang saja tetapi dialami juga oleh cabang seni tradisional lainnya yang ada di Ujungberung. Menyadari akan hal itu, memasuki pertengahan tahun 1970-an ini sekelompok seniman dan budayawan Ujungberung yang tergabung dalam Paguyuban Seni “Kandaga Kancana”, berusaha menggali kembali dan melestarikan berbagai seni tradisional Sunda buhun yang hidup di Ujungberung di antaranya; Ketuk Tilu Buhun, Buncis, Tembang Sunda, Reak, dan khususnya Benjang Helaran dan Tari Topeng Benjang. Kelompok ini pun menjadi perantara dan wadah bagi siapa saja yang ingin meneliti atau mempelajari seni-seni tersebut baik bagi peneliti asing ataupun lokal.
Usaha kelompok paguyuban ini berhasil mengangkat seni-seni buhun tersebut ke ajang yang lebih luas. Seni Benjang, khususnya waditra Benjang, walau masih dipadukan dengan seni lainnya mulai tampil pada acara pembukaan “Jakarta FATA 1974”, dan Pementasan Seni Budaya di Gedung Kesenian Madison, USA pada tanggal 17 November 1984.
Pada tanggal 25 s.d. 27 Desember 1982, sekelompok pemuda yang tergabung dalam organisasi “Teater Nada” di bawah pimpinan Denny Hamdan, mengadakan Festival Benjang yang pertama. Kegiatan ini diadakan untuk menggairahkan kembali aktifitas Benjang Gulat yang sempat terhenti karena larangan pemerintah.
Pada tanggal 11 – 13 September 1988, Yoyo TSA, yang pada waktu itu masih menjabat Pemiliki Kebudayaan Kecamatan Ujungberung, membawa seni Benjang yang diwakili seni Tari Topeng Benjang mengikuti “Festival Tari Rakyat Nasional” di Gedung Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pada ppergelaran tersebut, seni Tari Topeng Benjang masuk ke dalam Sepuluh Besar Nasional.
Pada tanggal 11 Januari 1989 bertempat di Aula Rumah Makan Ponyo, diadakan saresehan para tokoh Benjang. Hasil dari pertemuan itu dibentuklah organisasi Benjang yang pertama sejak masa Orde Baru dengan Nunung Aspali terpilih sebagai ketuanya.
H. Masa Orde Reformasi (1999 - ...)
            Kepakuman seni Benjang Gulat yang cukup lama telah mengetuk hati para birokrat. Atas prakarsa Drs. H. Maman Abdurachman (saat itu menjabat sebagai Camat Ujung Berung) dan Ir. H. Farid Muliadi (ssat itu menjabat Patih Kotamadya Bandung), pada tanggal 16 Juni 2000 dibentuklah “Panguyuban Mitra Seni Benjang Bandung Raya”, yang  diketuai oleh Aam Amin Santosa, salah seorang tokoh silat Bandung. Panguyuban tersebut berupaya membangkitkan kembali gairah frekuensi seni Benjang khususnya pencabutan larangan pergelaran seni Benjang Gulat yang sudah diterapkan sejak tahun 1977.
            Setelah panguyuban tersebut terbentuk, frekuensi pergelaran seni Benjang Gulat mulai marak. Seiring dengan makin berkembangnya kembali seni ini, baik perilaku seni maupun penikmat seni ini mulai mengalami  beberapa masalah salah satunya adalah perpecahan. Untuk menghindari hal tersebut pada bulan September 2000 para tokoh Benjang kembali mengadakan pertemuan untuk mendirikan “Panguyuban Seni Gulat Tradisional Benjang Kodya Bandung” dimana Abdul Gani, tokoh Benjang akhir tahun 1960-an, terpilih menjadi ketuanya.
            Sejak terbentuknya panguyuban tersebut, mulai bermunculan paguron - paguron benjang yang melatih para pe-Benjang Gulat, grup-grup Benjang Helaran, serta padepokan-padepokan Benjang, diantaranya : Padepokan Rajawali Biru (Kmp. Cigending) yang diketuai oleh Drs. Nunu Nugraha M. Si.Padepokan Rajawali Putih (Kmp. Sukalihah) diketuai oleh AmarPadepokan Bukit Paratag (Kmp. Paratag Kulon) yang diketuai oleh Teddy Sy. Yudistiaddy, Sip.
            Seiring dengan lahirnya parugon-parugon dan padepokan-padepokan mulai digelar beberapa event penting kegiatan seni Benjang di antaranya:
a.       Festival Benjang Gulat yang merupakan kalender rutin tahunan dari pengurus panguyuban Benjang Kota dan Kabupaten Bandung.
b.      Festival Benjang Gulat se-Jawa Barat yang diselenggarakan oleh pengurus Benjang Gulat jawa Barat.
c.       Festival Benjang Helaran se-Bandung Raya yang diselenggarakan oleh Konsorsium Mahasiswa Ujung Berung.
d.      Festival Benjang Anak 2001 yang diselenggarakan oleh komponen ormas pemuda dan masyarakat kampus yang tergabung dalam “Pemuda Peduli Benjang”
e.       Gelar Seni Benjang di Alun-alun Ujung Berung yang diselenggarakan dua minggu sekali oleh BKPMK Ujung Berung bekerja sama dengan Disbudpar Kota Bandung
f.       Gelar Benjang di setiap padepokan dan paguron
Pada tanggal 12-13 September 2003. Pengurus Panguyuban Seni Benjang Gulat Tradisional Kota Bandung memprakarsai terselenggaranya MUSDA (Musyawarah Daerah) Seni Benjang Gulat se-Jawa Barat dengan hasil berupa kesepakatan mengangkat Drs. H. Uu Rukmana, tokoh silat dan juga merupakan sesepuh Benjang, sebagai Ketua Umum dan Drs. Andang Segara sebagai Ketua Harian. Pada MUSDA itu mengukuhkan dengan pasti kedudukan seni Benjang Gulat masuk dalam binaan PGSI (Persatuan Gulat Seluruh Indonesia) Jawa Barat yang merupakan cabang induk organisasi KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Jawa Barat.

1 komentar:

  1. aduh benjang panca warna masih ada hingga sekarang

    BalasHapus