Senin, 16 Juli 2012

SENI BENJANG


SENI BENJANG
A.  Masa Pembentukan (1852-1910)
Tidak ada yang tahu secara pasti kapan seni benjang dilahirkan. Namun diperkirakanpada pertengahan abad ke 19 cikal bakal seni ini mulai ada, dan muai dikenal luas oleh masyarakat pada pertengahan tahun 1920-an.
Sebagai sebuah seni beladiri, benjang ini berkembang dari ilmu bela diri tradisional Indonesia secara umum. Pada pertengahan abad ke 19 pemerintah Hindia Belanda Melarang semua jenis ilmu beladiri, sehubungan dengan adanya kelompok pemuda yang menuntut kemerdekaan. Ilmu beladiri hanya boleh diberikan pada kalangan tertentu saja, yaitu Sekolah pegawai pemerintah, sekolah polisi, dan pegawai sipil.  Untuk mengatasi larangan tersebut akhirnya para pencinta ilmu beladiri secara sembunyi-sembunyi membentuk perkumpulan yang berkedokan olahraga dan kesenian lewat jalur agama. Sejak itulah muncul surau, pesantren, yang mengadakan latihan ilmu bela diri sebagai bagian untuk melatih fisik mental para santri. Cara ini mampu membangkitkan semngat pemuda dalam melawan penajjah.
Menurut Ajip Rosidi dalam Ensiklopedi seni sunda, mengungkapkan bahwa olahraga dan kesenian lewat jalur agama (islam) melahirkan seni Rudat. Seni Rudat ini kemudian berkembang menjadi kencring atau genjring, serta gedut. Seni gedut terbagi menjadi Ujungan yakni saling memukul dengan seutas rotan, Seredan yakni saling mendorong badan, dan gesekan yakni saling menggesekan badan. Seni gedut ini terkenal dibeberapa wilayah jawa barat termasuk di ujungberung yang lebih dikenal sebagai seni Terbangan.
Perubahan dari seni terbangan menjadi seni benjang tidak diketahui secara pasti, namun diperkirakan proses ini berlangsung pada akhir abad ke 19 hingga awal abad ke 20. Pada awalnya seni benjang dikembangkan oleh beberapa tokoh silat dan ujungan, dikembangkan dalam bentuk seni benjang gelut atau gulat. Kemudian seni benjang helaran dan topeng benjang dikembangkan oleh seniman ubrug dan doger.
Pada tahun 1852 Residen priangan menetapkan bahwa daerah priangan terbuka bagi siapa saja yang ingin menetap disana. Membaurnya para pendatang dengan penduduk asli kabupaten bandung menjadikan perubahan social dan budaya. Seni terbangan di masyarakat Bandung biasanya digunakan saat acara-acara keagamaan memperingati hari besar Islam. Kemudian berkembang tidak terbatas hanya pada lingkungan santri saja, seni terbangan ini kemudian sering digunakan pada acara syukuran panen, kelahiran bayi, bersih desa, dsb. Seni terbangan tidak hanya dimainkan di surau-surau saja, namun di tempat terbuka seperti pelataran rumah juga mulai memainkan seni tradisi terbangan. Bila dimainkan ditempat terbuka seperti ini biasanya pemain waditra berada di amben (bale-bale) sambil memainkan lagu pengiring. Beberapa orang memahami bahwa kata Benjang berasal dari kata “ben” dan “jang”. Ben kependekan dari kata amben, dan jang dari kata bujang (laki-laki) karena seni ini hanya dimainkan oleh para lelaki.  Sehingga dapat disimpulan bahwa semua permainan yang dilakukan di pelataran rumah dan diiringi oleh musik terbangan yang dimainkan di amben oleh para bujang/lelaki disebut BenjangPaham yang lebih sederhana mengatakan bahwa seni benjang ini berarti laki-laki karena hanya dimainkan oleh para lelaki. Saat itu waditra (alat musik) dasar seni benjang masih terbilang sederhana, berupa 2 buah gebrang (terbang dasar) dan satu buah kempring (terbang kecil). Itu merupakan bentuk transisi dari seni terbangan.
Seni terbangan sendiri berasal dari Majalaya, dimana urutan penyajian seni terbangan diawali dengan Nyuguh, Rajah yang terdiri dari 3 pupuh, dan hiburan yang terdiri dari tarian yang diiringi music terbangan. Pada pelaku seni buhun biasanya mereka menari dengan gerakan bebas hingga mereka memasuki fase trance atau kesurupan dan melakukan tarian-tarian pencak silat.
Lagu-lagu yang digunakan memiliki pola tabuhan yang berbeda-beda. Salah satu lagu yang sering digunakan saat mengiringi anak yang dikhitan pada pertunjukan seni benjang helaran adalah Rincik Manik. Lagu Rincik Manik banyak dihapalkan oleh pelaku seni terbangan, sementara para pelaku benjang jarang ada yang mengahaplny. Dengan demikian lagu Rincik Manik ini menandakan adanya pengaruh seni terbangan yang pernah ada di ujungberung terhadap perkembangan seni benjang saat ini. Waditra yang digunakan juga memiliki kesamaan yakni empat buah terbangan yang terdiri dari, satu buah tojo, dua buah Indung, satu buah keprang, dan satu buah dog-dog kecil. Kemudian dalam perkembangannya seni benjang ini menggunakan 3 buak kulanter dan alat musik modern seperti keybord, bass,dan melodis.
Seni Ubrug dan Doger merupakan awal mula perkembangan benjang helaran dan benjangtopeng. Kesenian ubrug termasuk jenis teater peran yang sudah punah. Kejayaan seni ubrug diteruskan oleh kelompok Mad Sya’ir yang kemudian membubarkan diri dan membentuk group benjang. Ke khasan group Benjang Mad Syai’r ini adalah semua pemainnya laki-laki. Peran wanita dimainkan oleh laki-laki yang berdandan seperti wanita. Dalam Ubrug lakon yang biasanya diperankan berbentuk lakon-lakon pendek yang disebut bobodoran. Bobodoran ini lebih mengutamakan tawa penonton. Dalam pertunjukan ubrug ini jalan cerita tidak terlalu penting, kondisi inilah yang kemudian melahirkan seni benjang topeng.
Pertnjukan dilakukan untuk memeriahkan berbagai hajatan, bila tidak ada penggilan biasanya meraka melakukan pertunjukan keliling dan mendapatkan uang saweran atau yang biasa disebut dengan ngamen.  Alat musik yang digunakan diantaranya adalah gendang, kulanter, terbang biang dan terompet.
Seni doger semacam seni ronggeng, seni doger di Ujungberug lebih mirip seni ubrug. Sementara seni ubrug di ujungberung lebih mirip ke bentuk pertunjukan tonil (sandiwara keliling).

B. Masa Kelahiran (1911-1930)
            Pada masa awal abad ke-20, bentuk seni bela diri sering dimainkan saat sesudah musim panen di sawah yang berlumpur. Bentuk seni ini disebut dogong/dogongan atau adu dogong. Dogongan adalah seni adu kekuatan tenaga yang dimainkan oleh dua orang lelaki dengan menggunakan halu(alu=alat penumbuk padi). Alat musiknya pun mengalami penambahan, berupa kendang (gendang) dantarompet (terompet). Jumlah terebangan bertambah menjadi empat buah. Pertunjukkan seni dogongan, seredan, pencak silat, dan pertunjukkan magis, seperti misalnya beberapa orang berusaha mengendalikan alu yang telah diberi kekuatan magis oleh sesepuh kelompok seni, atau beberapa orang melakukan gerakan-gerakan tarian.
            Di periode ini, tampak terjadi pengalihan tempat kegiatan dari areal persawahan atau perkebunan dan sekitarnya ke halaman rumah.
Natadiredja adalah seorang seniman sunda yang komplit, selain sebagai seniman tari dan karawitan ia juga mampu membuat berbagai waditra seni sunda. Karena itu pada zamannya ia terkenal aktif mengembangkan berbagai seni sunda yang hidup di Ujung Berung, seperti Wayang golek, Reog, Doger, Ubrug, Terebangan, hingga Benjang.
Natadiredja memiliki beberapa orang putera yang kelak meneruskan bakat seninya, diantaranya: Mad Ro’i, Surinta, Manta, Sahari. Pada pertengahan tahun 1920, Mad Ro’i bersama saudara-saudaranya diwarisi orangtuanya untuk memimpin kelompok Benjsng Ciharegem. Selain sebagai seniman Benjang, Manta mewarisi juga bakat ayahnya sebagai seorang perajin waditra seni sunda, khususnya waditraseni Benjang.

Aki Damiri adalah salah seorang narasumber yang tinggal di Kampung Cijambe.Aki Damiri adalah kakak dari Mama Aspali (alm), yaitu seorang tokoh seni bela diri Pencak Silat dan juga seorang tokoh seni bela diri Pencak Silat dan juga seorang tokoh Benjang Gulat akhir tahun 1920-an hingga akhir 1940-an.
Dari penuturannya dapat digali informasi tentang bentu seni bela diri Bjang dari kelompok Irtasan. Pada saat itu beliau hanya duduk di teras bersama kerabatnya menyaksikan pertujukan seni Benjang yang dimainkan di halamrumah keluarganya. Sedangkan masyrakat lainnya menonton memenuhi halaman rumah dengan membentuk lingkaran, dimana perunjukan Benjang berada di tengah-tengahnya.

Pada masa itu munculah nama-nama tokoh seni yang juga ikut berjasa dalam membentuk seni Benjang awal ini, diantaranya: Santari/Antari (Kampung Ciwaru) dan Mad Sari/Aki Sari (Kampung pasirbiru – Cibiru) tokoh seni Terebangan, Abdul Rochman (Ciporeat) tokoh seni Terebangan, Sartijem (Cigupakan) tokoh Ujungan dan Pencak Silat.
Pada perkembangan berikutnya menurut keterangan dari beberapa Sepuh Benjang Ciwaru, gerakan mendorong itu berubah ke bentuk saling merapatkan pundak, sehingga properti alu sudah tidak lagi. Digunakan lagi, Bentuk seni ini disebut Seredan. Bentuk seni Sredan ini tidak hanya dimainkan oleh dua orang tetapi terkadang dimainkan oleh empat orang dengan seorang “ pancer” (patok) di tengah peserta. Fungsi “pancer” selain sebagai pengatur jalannya permainan (wasit), juga sebagai tenaga penahan dari tenaga peserta Seredan yang mendorong dari empat arah yang berbeda. Seseorang dinyatakan kalah apabila kehabisan tenaga sehingga lemas atau terdesak ke luar arena permainan yang telah disepakati. Permaina Seredan berkembang ke bentuk gerak saling mendorong menggunakan kepala. Gerak ini disebut mumundingan/adu munding. Pada permainan ini, gerak mendorong dilakukan dengan cara membungkuk hingga merangkak, mendesak lawan dengan kepala. Gerak “mumundingan” terkadang masih digunakan pada permainan BenjangTradisional saat ini. Akhirnya, seni Terebangan-Silat sebagai seni Benjang awal ini telah berinteraksi dengan seni bela diri lainnya, maka Mas Soerjawikanta berusaha mengubah gerak seni bela diri ini agar bisa diterima lebih luas oleh masyrakat, khususnya masyarakat dari luar ataupun para pendatang yang menetap di Ujung Berung. Gerak saling mendorong diperluas menjadi gerak genyenyeng (mengambil dan membawa dengan paksa) dan pakenyang-kenyang (saling tarik menarik). Dari kata tersebut muncul versi akronim lain, yaitu Genyang atau Genjang yang lambat laun berubah menjadi Benjang.
Bentuk seni bela diri gulat tradisional ini mulai menarik perhatian pemerintah Hindia Belanda. Karena itu, ketika orang Belanda diundang untuk melihat kesenian ini, mereka spontan menamakannya Band Youngs Sundanis (grup musik pemuda sunda). Ben berasal dari kata Band atau grup musik (karena seni bela diri ini diiringi oleh sekelompok pemain musik tradisonal) dan Jang berasal dari kata Youngs (karena dimainkan hanya oleh para lelaki muda).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar