Senin, 16 Juli 2012

SISTEMATIKA KELAHIRAN SENI BENJANG


SISTEMATIKA KELAHIRAN SENI BENJANG
Menurut Denny Hamdan SB., proses pembentukan seni Benjang awal ini terjadi antara tahun 1906-1923. Bentuk Benjang awal ini disebut Benjang Gelut  (gelut=berkelahi) atau Benjang Gulat. Bentuk ini kemungkinan besar sangat terpengaruh oleh weersteleun/weersteling, yaitu olah raga Gulat pada masa Hindia Belanda. Ini dikarenakan pada masa memasuki pertengahan tahun 1920-an, umumnya di wilayah Bandung para pelaku seni bela diri tengah meng “gandrungi” olahraga weersteling. Sehingga banyak di antara mereka yang menekuni olah raga ini.
Pada akhir 1920-an muncul pula duakelompok penabuh waditra Benjang. Kelompok pertama, pimpinan Al Wasim (Bah Wasim) dari kampung Terekdenglok Ciwaru, yang merupakan anak didik dari Santari dan Mad Sari. Kedua, kelompok pimpinan Asnarif (Bah Arif) dari kampung Cigupakan  yang merupakan anak didik Sartiyem.
Dengan semakin dikenal luasnya seni ini, maka bermunculan jago-jago Benjang dari luar daerah, seperti dari Banten, Garut, Cianjur, Karawang, sumedang, Cirebon, dsb. Menjelang akhir 1920, Mas Soerjawikanta membentuk sebuah paguyuban seni Benjang pertama. Perkumpulan tersebut diberi nama “Soerja Kontjara”, yang berarti “cahaya ang terkenal”. Hingga ahir 1930, kelompok Al Wasim dan As nari, dengan sungguh-sungguh mengembangkan pola tabuh Benjang. Dari mereka munculah pola-pola tabuh seperti dilajur, goyang, tetabah, dsb.
Pada waktu itu, sepanjang siang hari, kelompok ini terlebih dahulu sering memainkan waditra Benjang untuk memberi tanda bahwa pada malam harinya akan digelar pertandingan Benjang Gelut. Menjelang pertengahan tahun 1930, kelompok Bah Wasim menghadirkan properti kesweh dan sepasang kuda lumping yang kemudian diikuti pula oleh Bah Arif. Pada tahun 1928 seni Benjang bentuk baru ini mulai dimainkan untuk mengarak anak sunat.
Para nayaga (pemain waditra) kelompok Al Wasim saat itu adalah : Eme pada terompet, Intasim (putera Bah Wsim) dan Salhasik (putera angkat Bah Wasim), pada kendang. Sedangkan pemain lumping, bangbarongan, babadudan dimainkan bergantian oleh para remaja saat itu.
Pada periode ini, menjelang awal tahun 1930, para pelaku Benjang Gulat dikejutkan dengan munculnya teknik “belit”. Teknik belit bertumpu pada kekuatan otot kaki yang dibelitkan pada bagian kaki lawan.

C.  Masa penyempurnaan (1931-1942)
Teknik belit kemudian dikembangan oleh anak-anak didik Marzuki, di antaranya Sarka (Ciwaru) dan Mad Rais (Cibiru). Dari kedua tempat itulah bermunculan para pe-benjang tangguh yang merajai setiap arena pertandingan benjang hingga saat ini.
Memasuki pertengahan tahun 1930-an, pengembangan seni benjang di wilayah kecamatan Ujung Berung dan sekitarnya , hampir seluruhnya dipegang oleh kelompok Ciwaru dan Cigupakan.
Pada masa itu, atas prakarsa Al Wasim, para seniman kelompok kelompok Ciwaru-Pasir Angin dan sekitarnya, membentuk suatu paguyuban yang diberi nama “Panca Warna” yang artinya keanekaragaman jenis kesenian, karena memang paguyuban tersebut mewadahi berbagai jenis kesenian yang tumbuh di daerah tersebut. Namun akhirnya nama itu menjadi identik dengan nama grup benjang pimpinan Bah Wasim sendiri.
Pada saat yang sama, di Cigupakan pun atas prakarsa Asnarif,para seniman Cigupakan-Cigagak membentuk paguyuban seniman “Aneka Warna”, yang mempunyai tujuan yang sama dengan paguyuban Panca Warna. Sehinggga akhirnya nama aneka Warna menjadi identik dengan nama grup benjang pimpinan Asnarif.
Al Wasim dari kelompok Ciwaru mengembangkan seni ini lebih jauh dengan dibantu para anak didiknya seperti Salhasik dan Ama Karma. Pada tahun 1934 keluarga Ukria menggabungkan diri dengan peguyuban Panca Warna. Ukria adalah seorang tokoh silat yang sangat tertarik dengan perkembangan seni  benjang. Pada paguyuban Panca Warna, selain mempelajari seni benjang, Ukria lebih mengkhususkan dalam pengembangan seni pencak silat.
Pada tahun 1934 beberapa seniman benjang gulat ikut dalam kompetisis weersteleun atauweerstling yang ditampilkan pada perayaan “Festifal Jaarbeurs”. Pada kegiatan ini para pe-benjang selain berpartisipasi sebagai peserta, mereka juga memperkenalkan seni benjang kepada masyarakat Bandung. Sehingga secara langsung maupun tak langsung para pe- weerstling pada akhirnya ikut terlibat dalam pengembangan seni benjang gulat.
Memasuki tahun 1938, benjang wawaran pertama kali digunakan untuk mengarak anak khitan. Bentuk seni benjang itu dinamakan benjang helaran (benjang arak-arakan). Pada bentuk benjang helaran awal ini, property yang digunakan masih sangat sederhana, yaitu terdiri dari dua buah lumping, dua orang yang memerankan kesweh (aki-nini), serta tokoh-tokoh ponakawan. Bentuk ini kemudian dikembangkan oleh kelompok Al Wasim dengan menambahkan property adu-dodombaan, yang dimainkan selama arak-arakan berlangsung.
Setahun kemudian kelompok Al Wasiim dan Asnarif mulai mengembangkan bentuk seni benjang pertunjukan, yakni topeng benjang. Taip dan Iming merupakann penari topeng benjang generasi ertama dari kelompok Ciwaru, sedangkan Sumli dan Taryo penari topeng generasi pertama dari Cigupakan. Para penari itu mengubah bentuk bentuk bentuk seni tari topeng klasik sunda yang berpola menjadi seni tari topeng benjang yang tidak berpola (grubug/abrag).
Menjelang tahun 1940, senii benjang pun mulai dipergelarkan secara utuh. Pada tahun ini pun seni benjang gulat mulai menyebar rata ke seluruh wilayah Ujung berung, hingga bebrmunculan jawara-jawara Benjang baru.  Selain itu pada tahun ini pun terjadi penambahan dan perubahan property benjang  helaran, penambahan berupa sebuah bangbarongan dan berubahnya bentuk lumping menjadi bentuk kepang. Lulumpingan adalah bentuk kuda lumping yang terbuat dari rotan, sedang kekepangan terbuat dari anyaman bamjbu. Terjadinya penambahan dan perubahan tersebut karena pengaruh para pengamen dari Cibaligo yang sering memainkan property tersebut saat ngamen berkeliling kempung sekitar wilayah Ujung Berung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar